Pyrethrum, Si Cantik Pembasmi Serangga

Penggunaan pestisida sintetis secara kontinyu dapat mengakibatkan kerusakan pada lingkungan dan gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan tubuh yang dapat dialami akibat penggunaan insektisida sintetis, yaitu nyeri pada bagian perut, gangguan pada jantung, ginjal, hati, mata, pencernaan, bahkan dapat mengakibatkan kematian. Sedangkan, kerusakan lingkungan yang diakibatkan, yaitu pencemaran pada tanah, air, tumbuhan, dan rusaknya rantai makanan suatu ekosistem.

Berbagai macam cara dapat dilakukan untuk menanggulangi masalah ini, antara lain dengan pencegahan, pengurangan penggunaan insektisida, dan penggunaan insektisida alami. Insektisida alami dapat berupa predator alami dari serangga maupun tanaman. Insektisida berupa predator alami antara lain adalah kepik. Kepik dapat memakan serangga lain, seperti kutu daun. Selain itu, kepik dapat mudah dikemas dan mudah ditemukan dalam lingkungan sekitar. Solusi lain dari masalah tersebut adalah insektisida botanikal.

Insektisida botanikal adalah insektisida dari tumbuhan. Tumbuhan yang memiliki senyawa kimia atau metabolit sekunder yang dapat mempertahankan dirinya terhadap gangguan serangga dan organisme berpotensi penyakit. Metabolit sekunder dapat berupa zat ergastik, kristal, pati, dan lain-lain. Metabolit sekunder biasa disimpan dalam tumbuhan sebagai cadangan makanan, maupun sebagai penangkal serangga.

Metabolit sekunder yang dapat dijadikan penangkal serangga antara lain dari golongan alkaloid, dan terpenoid. Metabolit dari golongan alkaloid umum ditemukan pada tanaman yang dapat menangkis serangan serangga. Metabolit ini ditemukan antara lain, pada tanaman tembakau. Pada tembakau, ditemukan zat nikotin yang dapat membantu menangkal serangan serangga. Metabolit sekunder ini dapat diekstrak dari tumbuhan dan dijadikan insektisida alami. Selain tembakau, terdapat berbagai macam tumbuhan yang dapat dijadikan bahan baku insektisida alami, antara lain adalah tanaman Pyrethrum.

Pyrethrum atau Chrysanthemum, adalah tanaman dari famili Asteraceae. Pyrethrum pertama kali dibudidayakan di Cina pada 15 abad sebelum Masehi sebagai tanaman herba. Tanaman ini dibawa ke Eropa pada abad ketujuh belas. Linnaeus memberikan nama Chrysanthemum berdasarkan kata dari bahasa Yunani, chrysous, yang berarti keemasan dan anthemon, yang berarti bunga. Chrysanthemum memiliki berbagai macam kegunaan, yaitu sebagai tanaman dekoratif, bumbu masakan, dan sebagai insektisida alami.

 

Pyrethrum

Pyrethrum pertama kali digunakan sebagai insektisida alami di dataran Cina pada abad kesatu. Seiring dengan berjalannya waktu, penggunaan Pyrethrum sebagai insektisida alami semakin meluas. Pyrethrum merupakan insektisida alami yang sangat banyak digunakan saat ini dan cukup efektif. Selain itu, Pyrethrum memiliki tingkat toksisitas yang rendah bila dibandingkan dengan insektisida sintetis sehingga relatif lebih aman bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Pada Pyrethrum terdapat campuran senyawa pyrethrins dan cinerins. Pyrethrins adalah sepasang senyawa organik natural yang memiliki potensi aktivitas insektisidal. Pyrethrin I dan pyrethrin II memiliki struktur mirip ester dengan inti siklopropana. Pyrethrins bersifat tidak stabil, mudah didegradasi (biodegradable) dan dipecah ikatannya bila didedahkan pada cahaya atau oksigen. Karena itulah, Pyrethrum lebih ramah lingkungan dibandingkan insektisida sintetis.

Pyrethrins diekstak dari kulit biji Chrysanthemum dan membentuk oleoresin yang tampak sebagai suspensi pada air atau minyak, atau dalam bentuk serbuk. Pyrethrins bekerja sebagai insektisida dengan cara menyerang sistem saraf semua serangga dan menghambat nyamuk betina untuk menggigit. Bila pyrethrins diberikan dalam dosis yang tidak begitu fatal bagi serangga, pyrethrins masih bekerja sebagai efek penangkal serangga. Bila dicampur dengan piperonyl butoxide atau piperonyl cyclonene, pyrethrins akan memiliki tingkat toksisitas lebih tinggi dan memproduksi aksi residual yang lebih lama dan dapat dipergunakan secara ekstensif dalam bentuk spray.

Pada mulanya, Pyrethrum diekstraksi dengan cara menggiling bunga Chrysanthemum yang telah dikeringkan hingga menjadi serbuk. Namun, saat ini pyrethrum diekstraksi dari bagian tanaman Chrysanthemum dalam larutan. Proses yang meliputi pembuatan insektisida alami dari Pyrethrum adalah proses ekstraksi, purifikasi, identifikasi, sintesis, dan bioassay, serta evaluasi.

Proses ekstraksi bertujuan untuk memperoleh metabolit sekunder pada tanaman Pyrethrum yang berfungsi sebagai insektisida alami, dalam hal ini pyrethrins. Dalam ekstrak yang diperoleh, masih terdapat campuran zat-zat lain (kontaminan), sehingga diperlukan proses purifikasi agar diperoleh zat pyrethrins yang murni. Selanjutnya, zat yang telah dipurifikasi akan diidentifikasi kemudian akan mengalami proses sintesis. Hasil dari sintesis zat tersebut akan mengalami percobaan, dan evaluasi. Bila dinilai layak, hasil sintesis dari pyrethrins tersebut sudah mampu untuk digunakan sebagai insektisida alami.

Penggunaan Pyrethrum sebagai insektisida alami dapat membantu menanggulangi masalah lingkungan dan meminimkan masalah kesehatan. Karena tingkat toksisitas Pyrethrum bagi manusia rendah dan mudah didegradasi di lingkungan (biodegradable). Selain karena keindahan bunganya, Pyrethrum merupakan solusi insektisida di masa depan.

Wilujeng!!

Selamat buat semua praktikan Proyek Ekologi semester 2009/2010, khususnya buat kelompok 2. Selamat atas presentasi yang sukses dan para kelompok yang terpilih menjadi yang terbaik serta favorit.
Selamat buat semua anggota kelompok 2, perjuangan kita selama ini tidak sia-sia kawan. Mulai dari survey, ngitungin serangga ampe malem, and bikin laporan ampe malem pisan. Punten saya g bisa ikut pas pelaksanaan bikin pitfallnya ke Ciwidey krn bentrok kulap Biosistematika ke Pangandaran tea. Satu semester sama kalian merupakan waktu yang benar-benar berharga dan punya tempat tersendiri di hati saya. Waktu-waktu yang udah saya lewatin dengan kalian untuk bekerja atau bercanda terlalu berarti sehingga sulit untuk saya lupakan dalam sekejap. Terima kasih atas kerjasama yang hebat dan luar biasa dalam satu semester ini. Sedih juga rasanya bakal berpisah (kaya yang mau pergi kemana aja, padahal masih bisa ketemu. Insya Allah). Semoga kita semua lulus mata kuliah semester ini dengan nilai memuaskan. AMIN..

NB: Post ini dibuat berdasarkan pemikiran dan hati saya pada tanggal 19 Desember 2009, namun telat dipost. Afwan. Tapi, ggpp lah ya, masih bulan Desember juga. Hehe*ngeles*

Mabok serangga!!

Setelah minggu-minggu kemarin mabok Proyek BiselMol, sekarang saya mabok Proyek Ekologi. Tepatnya mabok SERANGGA!!!Yap, si topik penelitian akhir proeko itu..bikin kepala saya sakit, hati gak tenang, dagdigdug duer..deh
hah..do’akan saja semoga laporannya kelar dan presentasinya besok lancar. Amin..

Dendogram Anura

DENDOGRAM ANURA

I. Hasil Pengamatan

Gambar 1.1 Dendogram Anura dengan menggunakan perhitungan Bray Curtis Distance

II. Pembahasan

Pada percobaan ini digunakan Bray Curtis Distance untuk menentukan dendogram dari hasil pengukuran ratio tubuh Anura (Bufonidae dan Ranidae) yang telah dilakukan. Bray Curtis Distance adalah metode normalisasi yang biasa digunakan dalam botani, ekologi, dan ilmu penegetahuan lingkungan. Bray Curtis Distance memiliki property yang baik, jika semua koordinat positif maka nilai yang ada antara nol dan satu. Zero Bray Curtis akan merepresentasikan similar coordinate yang tepat. Jika kedua objek berada dalam koordinat nol, Bray Curtis Distance tidak dapat didefinisikan. Normalisasi menggunakan perbedaan absolut dibagi dengan penjumlahan. Berikut adalah rumus dari Bray Curtis Distance:

, atau rumus yang ekuivalen

Pada percobaan ini digunakan lima macam spesies dari ordo Anura, terdiri dari dua macam dari famili Bufonidae dan tiga macam dari famili Ranidae. Berikut adalah keterangan klasifikasi dari kelima macam spesies tersebut:

Tabel 2.1 Klasifikasi Anura (Bufonidae dan Ranidae)

Spesies 1 Spesies 2 Spesies 3 Spesies 4 Spesies 5
Kingdom Animalia Animalia Animalia Animalia Animalia
Phylum Chordata Chordata Chordata Chordata Chordata
Class Amphibia Amphibia Amphibia Amphibia Amphibia
Ordo Anura Anura Anura Anura Anura
Famili Bufonidae Bufonidae Ranidae Ranidae Ranidae
Subfamili - - Raninae Dicroglossinae Dicroglossinae
Genus Bufo Bufo Rana (Hylarana) Fejervarya Fejervarya
Spesies Bufo melanostictus Bufo asper Rana (H.) chalconata Fejervarya limnocharis Fejervarya cancrivora

Berdasarkan hasil perhitungan dengan MVSP menggunakan Bray Curtis Distance, diperoleh dendogram seperti pada gambar 1.1. Pada dendogram tersebut dapat terlihat kekerabatan yang paling erat, yaitu antara spesies 4 dan spesies 5. Hal ini dikarenakan kedua spesies tersebut berasal dari kesamaan hingga tingkat genus, yakni genus Fejervarya.  Selanjutnya, kekerabatan spesies yang terdekat dari kedua spesies tersebut adalah spesies 3. Hal ini dikarenakan spesies 3 berasal dari Famili yang sama dengan spesies 4 dan 5, yaitu Famili Ranidae, meskipun berasal dari Subfamili yang berbeda. Kemudian kekerabatan berikutnya adalah kekerabatan spesies 1 terhadap ketiga macam spesies tersebut diikuti dgn kekerabatan spesies 2 terhadap keempat macam spesies lainnya.

Bufonidae memiliki struktur antara lain: tulang gelang bahu tersusun arciferal atau pseudofirmisternal oleh gabungan epicoracoid, pupil tersusun horizontal, kelenjar parotoid terlihat jelas, jari tereduksi dan memendek dengan interdigital pad yang tebal. Ranidae memiliki struktur antara lain: tulang gelang bahu tersusun firmisternal, pupil tersusun horizontal pada sebagian besar taxa, kebanyakan spesiesnya berukuran kecil, memiliki kaki yang panjang dan berselaput (Duellman dan Trueb, 1986).

Famili Bufonidae berisi sebagian besar spesies yang biasa disebut “kodok”. Spesies dari famili ini biasanya memiliki kulit yang berkutil, kaki pendek, dan badan yang gemuk. Fitur generalnya adalah bony crest pada bagian kepalanya yang biasa disebut cranial crest, dan kelenjar parotoid yang terlihat jelas pada bagian dorsalnya. Kelenjar ini mengeluarkan sekret yang tidak enak bagi mamalia. “Kodok” lebih sedikit tergantung pada air dibandingkan Amphibi lainnya, namun tetap memerlukan kelembapan. Makanannya berupa serangga (Morris, 1957).

Famili Ranidae berisi sebagian besar spesies yang biasa disebut “katak”. Spesies dari famili ini biasanya memiliki kulit yang mulus tanpa kutil, kaki panjang dan kuat dengan jari kaki yang berselaput, dan merupakan perenang yang hebat. Matanya besar dan brilian, timpanumnya terlihat jelas, dan beberapa spesies memiliki alur dorsolateral. Pada beberapa spesies ukuran timpanum dapat dijadikan acuan untuk membedakan jantan dan betina. Makanannya adalah serangga, anak ikan, salamander, tikus rumah, dan burung kecil. Banyak spesies dari famili ini yang kanibal. Biasanya hewan ini merupakan makhluk nocturnal yang memulai kegiatannya pada malam hari (Morris, 1957).

Daftar Pustaka

Duellman, William E. dan Trueb, Linda. 1986. Biology of Amphibians. US: McGraw-Hill

Morris, Percy A. 1957. Boy’s Book of Frogs, Toads, and Salamanders. US: Ronald Press Company

Teknomo, Kardi. 2008. http://people.revoledu.com/kardi/tutorial/Similarity/BrayCurtisDistance.html Diakses pada tanggal 4 November 2008

Mabok Probismol

Astagfirullah..ya Allah mudahkanlah kami dalam menempuh sidang Probismol bersama Bu Marsel esok..
Amin…
Semoga bisa lulus dgn nilai memuaskan..Amin..

Gak pgn ampe ngulang probismol, bisa gila..cukup sekali saja. Aku sudah mabok ampe pengen muntah-muntah. Hoeks..

Curhatan Singkat:P

Belum sempet apdet blog lagi. Sedang sibuk dengan urusan di dunia nyata. Do’akan ya semoga UAS dan presentasi hasil proyek saya berhasil dan sukses. Amin..

Setelah urusan ini selesai, insya Allah saya akan mengapdet lagi. Terlalu banyak cerita yang belum sempat diceritakan:)

Istilah-istilah dalam Herbivori

  • Defensive association: Salah satu mekanisme pertahanan dengan cara berasosiasi dengan organisme lain (Ganter, 2006). Misal: Acacia cornigera dan semut Pseudomyrmex ferruginea. Pada Acacia cornigera yang berasosiasi dengan Pseudomyrmex ferruginea, tingkat kesintasan (survival) tumbuhan lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak berasosiasi. Acacia cornigera menyediakan tempat tinggal dan sumber makanan bagi Pseudomyrmex ferruginea, sedangkan Pseudomyrmex ferruginea berperan sebagai penjaga dari serangan herbivor dan kompetisi oleh tumbuhan lain (Molles, 2008).

A. cornigera dan P. ferruginea

  • Mechanical defense: Salah satu mekanisme pertahanan dengan memanfaatkan struktur organisme tersebut. Pada tumbuhan, struktur pertahanan ini tergantung karakteristik fisik herbivor. Pertahanan ini dapat berupa modifikasi pada struktur daun dan batang, misal duri pada batang atau trichome (rambut) pada daun yang mengandung racun. Selain modifikasi pada struktur, mekanisme pertahanan ini dapat pula berupa susunan daun maupun cabang tumbuhan yang dapat menurunkan dampak herbivori. Tigmonasti pun merupakan mechanical defense. Pada Mimosa pudica, daun akan menutup dengan cepat bila ada stimulus berupa sentuhan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi luas permukaan daun yang dapat dimakan oleh herbivor (Ganter, 2006).

Duri, salah satu bentuk "Mechanical Defense"

  • Failure to attract: Salah satu mekanisme pertahanan dengan cara menghilangkan bau kimiawi (chemical odor)atau warna yang biasanya dijadikan patokan oleh herbivor untuk mencari makanannya (Ganter, 2006).
  • Reproductive inhibition: Produksi hormone-mimic oleh tumbuhan yang dapat mengganggu perkembangan serangga (Ganter, 2006).
  • Masting: Produksi sejumlah besar buah dan biji oleh tumbuhan secara bersamaan. Hal ini terjadi karena adanya predasi secara besar-besaran oleh predator, sehingga masting diperlukan agar beberapa biji dapat tumbuh menjadi individu baru (Molles, 2008).

Sumber:

Ganter, Phil. 2006. Herbivory. http://www.tnstate.edu/ganter/B412%20Ch%2011%20Herbivory.html Diakses pada tanggal 15 November 2009

Molles, Manuel C. 2008. Ecology: Concepts & Applications, 4th Ed. NY: McGraw-Hill

Bali I’m in Love..(Part 2)

Lanjutan dr postingan pertama..

Hari Ketiga (Selasa, 27 Oktober 2009)

Setelah shalat subuh, kami berkumpul dan mengambil jebakan Light trap yang telah dipasang malam sebelumnya. Karena hujan, kami sarapan dulu sembari berteduh sebelum melakukan pengamatan burung pagi. Tempat pengamatan burung pagi dibagi sesuai kelompok, kelompok saya mendapat tempat pengamatan di Teluk Gilimanuk. Dalam perjalanan, kami disambut oleh pelangi kembar! Subhanallah..tapi di foto gak gitu keliatan, soalnya yang satunya lagi tipis. Kemudian ada kejutan lagi, sewaktu pengamatan burung, ada biawak yang lewat! Wow..lebih tepatnya sih lari ke sarangnya mungkin :P

Pelangi kembar di pagi hari

Beres pengamatan pagi, saatnya ke Pulau Menjangan!!Apalagi kalo bukan snorkling, yihaa:D

Tiap 2 kelompok pergi ke Pulau Menjangan menggunakan sebuah perahu. Begitu mendarat kami disambut pemandangan yang indah sekali. Oh ya, saat itu kebetulan ada orang-orang bule (gak tau wisatawan atau peneliti) yang snorkling juga. Selanjutnya dari tiap kelompok ada dua perwakilan yang melakukan transek di terumbu karang dan identifikasi terumbu karang serta ikannya. Yang lainnya? Ada yang makan siang, foto-foto, dan melihat-lihat terumbu karang. Buat yang gak bisa berenang kaya saya, jangan khawatir! Soalnya pake pelampung dan alat bantu napasnya (alat snorkling) dan ada yang membimbing. Yang gak sempet ngeliat secara langsung pasti nyesel, soalnya terumbu karang dan hewan-hewannya memang indah bange! Sampai-sampai saya lupa dengan kecemasan gak bisa berenang itu, hehe..:P. Setelah itu kita berfoto bersama dan kembali ke basecamp untuk bersiap melakukan pengamatan malam.

Waktu pengamatan malam tiap kelompok dibagi-bagi tempat pengamatan lagi. Hampir di tiap tempat mendengar suara tokek, banyak pisan lah. Karena pengamatannya malam dan kita udah pada cape, rata-rata sih pas pengamatan jadi ketiduran gitu (termasuk saya:P). Sesudah pengamatan malam, semuanya kembali ke basecamp dan packing^O^

Ada nemo loh!

Foto-foto setelah snorkling:)

Hari Keempat (Rabu, 28 Oktober 2009)

Akhirnya kita pergi meninggalkan kawasan TNBB dan menuju Kintamani. Dalam perjalanan, kami sempat mengunjungi Pantai Lovina. Disana kami berfoto (apa lagi coba?) hingga batas waktu yang ditetapkan..haha. Karena perjalanannya lumayan lama, kami bernyanyi dan karaokean di Bis. Untunglah di bis A ada Randu, sang Master dangdut. Ada dia yang menghibur kita semua, kocak banget deh.

Anak-anak Al-Hayaat di Pantai Lovina

Randu, master karaoke kita

Sesampai di Kintamani, kami mengunjungi Museum Gunung Api Batur terlebih dahulu. Disana kami menonton film tentang pembentukan gunung Batur dan meneropong Danau Batur serta Gunung Batur dari puncak museum. Selain itu, kami pun mengelilingi ruang pamer museum. Selepas dari museum, kami berpindah dari bis ke truk. Akhirnya, perjalanan menuju tempat basecamp tinggal sedikit lagi.

Sesampainya disana, kami mendapat sambutan yang luar biasa dari sang pemilik resort. Rencana awalnya kami akan menggunakan aula sebagai tempat menginap, tapi ternyata sang pemiliki membolehkan kita mempergunakan bungalow! Subhanallah. Akhirnya praktikan putri tinggal di bungalow dan praktikan pria tetap di aula. Katanya sih tempat tinggal sementar kita itu sering dipake syuting. Pantesan bagus banget, subhanallah banget lah. Bahkan para asisten bilang kalau kulap kita ini bukan kulap, lebih mirip wisata. Hehe

Hari ini tidak begitu berat, karena kita hanya mengompil data dan identifikasi. Sisanya digunakan untuk beristirahat, karena esok akan menjadi klimaksnya^^

Menuju Museum

Tempat menginap kita di Kintamani

Lanjut ke postingan berikutnya..:P

Maaf ya, yg hari berikutnya lebih panjang soalnya:)

Mekanisme NO pada Tanaman

Nitrogen oksida (NO) adalah molekul yang sangat reaktif yang berdifusi secara cepat dan menembus membran sel. Pada tumbuhan, NO dapat disintesis melalui inorganic nitrogen pathway atau melalui katalisis enzimatik (NOS) dengan bantuan ion Ca2+. Enzim yang pertama kali ditemukan berimplikasi terhadap sintesis NO pada tumbuhan adalah nitrate reductase (NR). Protein ini memegang peranan penting dalam asimilasi nitrogen dan memproduksi NO saat aktivitas fotosintesis terganggu.

Invasi dari patogen mentrigger pembentukan senyawa perantara superoksida (O2-) yang reaktif dan hidrogen peroksida (H2O2) yang menginisiasi kematian sel. Hal ini dikenal sebagai hypersensitive disease resistance response. Reaksi anatara NO dan H2O2 akan menyebabkan terbunuhnya sel yang terinfeksi untuk mencegah persebaran patogen melalui tanaman. NO akan bereaksi dengan O2- membentuk peroxynitrite anion (ONOO-), yang akan berinteraksi dengan komponen selular lainnya. Senyawa tersebut diduga memiliki peran penting dalam fungsi signaling di tanaman. NO pun akan memperbesar efek dari spesi oksigen reaktif selama proses kematian sel. NO turut mempengaruhi sistem anti-oksidan dalam sel untuk efektivitas hypersensitive response.

Selain itu, NO berperan sebagai signaling molecule yang penting, mentrigger ekspresi gen untuk pertahanan diri sel. Ekspresi gen ini diinduksi pula oleh cGMP dan molekul yang disebut phenylalanine ammonia lyase (PAL), keduanya berperan sebagai second messengers selama signaling NO. Hasil dari ekspresi gen tersebut adalah flavonoid dan derivat isoflavonoid yang dapat berperan sebagai antibiotik.

Bali I’m In Love..part 1

Okay, sesuai yang telah saya janjikan. Sekarang saya mau bahas apa aja yang telah kami lakukan di Bali.

Hari Pertama (Minggu, 25 Oktober 2009)

Kami kumpul di Stasiun Kiaracondong pukul 05.00, tapi nyatanya kereta berangkat pukul 06.00. Ada yang hampir ditinggal, tapi untung dia datang pas detik-detik terakhir pengarahan sebelum naik kereta. Dia tak lain dan tak bukan adalah Dikta, katanya dia baru kebangun jam 5. JUARA. Untung keretanya gak berangkat pas jam 5. Setelah pengarahan, kami disuruh menaruh carrier dan keluar untuk sesi foto-foto.

Sesi foto sebelum berangkat menuju TKP

Keadaan di dalam kereta. Tali carrier menjumbai seeprti akar beringin:P

Perjalanan di kereta, dari Stasiun Kiaracondong menuju Stasiun Gubeng ditempuh selama 19 jam. Jadi, selama itu kami mengisi waktu di kereta dengan tidur, makan, main kartu, atau karaokean gak jelas. Ada juga yang rajin baca-baca modul dulu. Yang paling rame itu pas materi kulap tambahan alias kuliah cinta bersama pak Gede. Hehe, sumpah lucu banget lah. dan gosip cinlok pun mulai bermunculan. :P

Hari Kedua (Senin, 26 Oktober 2009)

Akhirnya sampai di Stasiun Gubeng, Surabaya pukul 01.00. Adegan turun dari kereta diwarnai aksi dan drama karena kami harus sigap menurunkan barang-barang logistik dan carrier. Two thumbs up buat cowok-cowok SITH, kalian emang tangguh!! Dari situ, langsung berlanjut naik bis menuju Pelabuhan Ketapang, tempat kita akan naik kapal ferry menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Tapi, sebelumnya kami beristirahat sambil shalat subuh dan makan pagi di rumah makan dekat pelabuhan.

Di ferry

Dan akhirnya, setelah perjalanan yang cukup lama menyeberangi perairan, kami pun tiba di pelabuhan Gilimanuk.

Akhirnya nyampe juga di Pelabuhan Gilimanuk

Setelah itu perjalanan berlanjut ke Taman Nasional Bali Barat. Disana kami menikmati istirahat, makan siang, dan membereskan barang. Alhamdulillah, kami beruntung. Rencana awalnya semua tidur menggunakan tenda pleton, tapi ternyata ada wisma VIP yang kosong dan wisma tersebut digunakan untuk praktikan perempuan. Praktikan prianya pun tidak jadi menggunakan tenda pleton dan akhirnya menggunakan fasilitas aula. Setelah membereskan barang, dimulailah kegiatan kami yang pertama, yaitu mengunjungi penangkaran Jalak Bali dan pengamatan burung sore.  Setelah itu, kami kembali ke basecamp dan makan malam yang dilanjutkan dengan penerangan tentang Light trap (Jebakan serangga untuk serangga yang sensitif dengan cahaya) dan kegiatan yang akan dilakukan di Pulau Menjangan keesokan hari.

Sesi foto sebellum pengamatan burung

Jalak Bali

Penerangan "Light trap"

Ok, sekian untuk kali ini..saya lanjut di posting berikutnya..:P