Penggunaan pestisida sintetis secara kontinyu dapat mengakibatkan kerusakan pada lingkungan dan gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan tubuh yang dapat dialami akibat penggunaan insektisida sintetis, yaitu nyeri pada bagian perut, gangguan pada jantung, ginjal, hati, mata, pencernaan, bahkan dapat mengakibatkan kematian. Sedangkan, kerusakan lingkungan yang diakibatkan, yaitu pencemaran pada tanah, air, tumbuhan, dan rusaknya rantai makanan suatu ekosistem.
Berbagai macam cara dapat dilakukan untuk menanggulangi masalah ini, antara lain dengan pencegahan, pengurangan penggunaan insektisida, dan penggunaan insektisida alami. Insektisida alami dapat berupa predator alami dari serangga maupun tanaman. Insektisida berupa predator alami antara lain adalah kepik. Kepik dapat memakan serangga lain, seperti kutu daun. Selain itu, kepik dapat mudah dikemas dan mudah ditemukan dalam lingkungan sekitar. Solusi lain dari masalah tersebut adalah insektisida botanikal.
Insektisida botanikal adalah insektisida dari tumbuhan. Tumbuhan yang memiliki senyawa kimia atau metabolit sekunder yang dapat mempertahankan dirinya terhadap gangguan serangga dan organisme berpotensi penyakit. Metabolit sekunder dapat berupa zat ergastik, kristal, pati, dan lain-lain. Metabolit sekunder biasa disimpan dalam tumbuhan sebagai cadangan makanan, maupun sebagai penangkal serangga.
Metabolit sekunder yang dapat dijadikan penangkal serangga antara lain dari golongan alkaloid, dan terpenoid. Metabolit dari golongan alkaloid umum ditemukan pada tanaman yang dapat menangkis serangan serangga. Metabolit ini ditemukan antara lain, pada tanaman tembakau. Pada tembakau, ditemukan zat nikotin yang dapat membantu menangkal serangan serangga. Metabolit sekunder ini dapat diekstrak dari tumbuhan dan dijadikan insektisida alami. Selain tembakau, terdapat berbagai macam tumbuhan yang dapat dijadikan bahan baku insektisida alami, antara lain adalah tanaman Pyrethrum.
Pyrethrum atau Chrysanthemum, adalah tanaman dari famili Asteraceae. Pyrethrum pertama kali dibudidayakan di Cina pada 15 abad sebelum Masehi sebagai tanaman herba. Tanaman ini dibawa ke Eropa pada abad ketujuh belas. Linnaeus memberikan nama Chrysanthemum berdasarkan kata dari bahasa Yunani, chrysous, yang berarti keemasan dan anthemon, yang berarti bunga. Chrysanthemum memiliki berbagai macam kegunaan, yaitu sebagai tanaman dekoratif, bumbu masakan, dan sebagai insektisida alami.

- Pyrethrum
Pyrethrum pertama kali digunakan sebagai insektisida alami di dataran Cina pada abad kesatu. Seiring dengan berjalannya waktu, penggunaan Pyrethrum sebagai insektisida alami semakin meluas. Pyrethrum merupakan insektisida alami yang sangat banyak digunakan saat ini dan cukup efektif. Selain itu, Pyrethrum memiliki tingkat toksisitas yang rendah bila dibandingkan dengan insektisida sintetis sehingga relatif lebih aman bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
Pada Pyrethrum terdapat campuran senyawa pyrethrins dan cinerins. Pyrethrins adalah sepasang senyawa organik natural yang memiliki potensi aktivitas insektisidal. Pyrethrin I dan pyrethrin II memiliki struktur mirip ester dengan inti siklopropana. Pyrethrins bersifat tidak stabil, mudah didegradasi (biodegradable) dan dipecah ikatannya bila didedahkan pada cahaya atau oksigen. Karena itulah, Pyrethrum lebih ramah lingkungan dibandingkan insektisida sintetis.
Pyrethrins diekstak dari kulit biji Chrysanthemum dan membentuk oleoresin yang tampak sebagai suspensi pada air atau minyak, atau dalam bentuk serbuk. Pyrethrins bekerja sebagai insektisida dengan cara menyerang sistem saraf semua serangga dan menghambat nyamuk betina untuk menggigit. Bila pyrethrins diberikan dalam dosis yang tidak begitu fatal bagi serangga, pyrethrins masih bekerja sebagai efek penangkal serangga. Bila dicampur dengan piperonyl butoxide atau piperonyl cyclonene, pyrethrins akan memiliki tingkat toksisitas lebih tinggi dan memproduksi aksi residual yang lebih lama dan dapat dipergunakan secara ekstensif dalam bentuk spray.
Pada mulanya, Pyrethrum diekstraksi dengan cara menggiling bunga Chrysanthemum yang telah dikeringkan hingga menjadi serbuk. Namun, saat ini pyrethrum diekstraksi dari bagian tanaman Chrysanthemum dalam larutan. Proses yang meliputi pembuatan insektisida alami dari Pyrethrum adalah proses ekstraksi, purifikasi, identifikasi, sintesis, dan bioassay, serta evaluasi.
Proses ekstraksi bertujuan untuk memperoleh metabolit sekunder pada tanaman Pyrethrum yang berfungsi sebagai insektisida alami, dalam hal ini pyrethrins. Dalam ekstrak yang diperoleh, masih terdapat campuran zat-zat lain (kontaminan), sehingga diperlukan proses purifikasi agar diperoleh zat pyrethrins yang murni. Selanjutnya, zat yang telah dipurifikasi akan diidentifikasi kemudian akan mengalami proses sintesis. Hasil dari sintesis zat tersebut akan mengalami percobaan, dan evaluasi. Bila dinilai layak, hasil sintesis dari pyrethrins tersebut sudah mampu untuk digunakan sebagai insektisida alami.
Penggunaan Pyrethrum sebagai insektisida alami dapat membantu menanggulangi masalah lingkungan dan meminimkan masalah kesehatan. Karena tingkat toksisitas Pyrethrum bagi manusia rendah dan mudah didegradasi di lingkungan (biodegradable). Selain karena keindahan bunganya, Pyrethrum merupakan solusi insektisida di masa depan.

, atau rumus yang ekuivalen 
















Recent Comments